Bener Meriah, 24 Juni 2026 – Aceh Women for Peace Foundation (AWPF) bekerja sama dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (PPAKB) Kabupaten Bener Meriah menyelenggarakan kegiatan pemulihan psikososial bagi perempuan penyintas bencana. Kegiatan ini berlangsung pada Rabu, 24 Juni 2026, di Aula Kantor Camat Timang Gajah, Kabupaten Bener Meriah.
Kegiatan ini diikuti oleh perempuan penyintas yang terdampak berbagai bencana, seperti banjir, tanah longsor, dan gempa vulkanik yang terjadi di Aceh, khususnya di Kabupaten Bener Meriah. Program ini bertujuan membantu peserta mengurangi dampak psikologis pascabencana, memperkuat ketahanan diri, serta membangun dukungan sosial di tingkat komunitas.
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Bapak Edi Jaswin, M.SiKepala Dinas PPAKB Kabupaten Bener Meriah. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan apresiasi kepada AWPF yang telah memberikan perhatian terhadap kebutuhan pemulihan psikososial bagi perempuan penyintas bencana di Bener Meriah.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada AWPF yang telah menghadirkan program pemulihan psikososial bagi perempuan penyintas bencana. Selain pemulihan, kegiatan ini juga penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat agar selalu siaga menghadapi bencana. Kabupaten Bener Meriah merupakan salah satu wilayah di Aceh yang rentan terdampak bencana, termasuk gempa vulkanik,” ujarnya.
Direktur AWPF, Irma Sari, dalam sambutannya menegaskan bahwa perempuan merupakan salah satu kelompok yang paling terdampak ketika bencana terjadi. Selain menghadapi risiko kehilangan dan trauma, perempuan juga sering memikul tanggung jawab untuk menjaga keselamatan anggota keluarga lainnya.
“Perempuan sering menjadi kelompok yang paling terdampak dalam situasi bencana. Mereka tidak hanya menghadapi rasa takut dan trauma, tetapi juga harus memastikan keselamatan anak-anak dan anggota keluarga lainnya. Oleh karena itu, pemulihan psikologis sama pentingnya dengan pemulihan fisik maupun ekonomi,” kata Irma Sari.
Ia menambahkan bahwa proses pemulihan psikososial membutuhkan waktu dan tidak dapat dilakukan secara instan. Dukungan dari keluarga, komunitas, pemerintah, dan berbagai pihak menjadi faktor penting dalam membantu penyintas bangkit kembali.
“Setiap orang memiliki daya juang yang berbeda-beda. Karena itu, kita tidak bisa menyamakan proses pemulihan setiap penyintas. Yang terpenting adalah memastikan mereka mendapatkan ruang aman, dukungan, dan pendampingan yang dibutuhkan untuk pulih dan melanjutkan kehidupan,” tambahnya.
Kegiatan pemulihan psikososial ini difasilitasi oleh Utami, S.Psi., Psikolog, Psikolog Klinis dari UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) serta Rumah Sakit Datu Beru Takengon. Dalam sesi pemaparan materi, beliau menjelaskan pentingnya pengelolaan emosi sebagai bagian dari proses pemulihan pascabencana.
Menurutnya, pengalaman menghadapi bencana dapat memunculkan berbagai reaksi emosional seperti takut, cemas, sedih, marah, hingga kehilangan rasa aman. Oleh karena itu, penyintas perlu memahami dan mengelola emosi tersebut agar tidak mengganggu aktivitas sehari-hari dan kesehatan mental mereka.
“Pemulihan psikologis dimulai dari kemampuan mengenali dan mengelola emosi yang muncul setelah mengalami peristiwa bencana. Emosi yang dikelola dengan baik akan membantu seseorang beradaptasi, bangkit, dan kembali menjalani kehidupan secara lebih sehat,” jelas Utami.
Selama kegiatan berlangsung, peserta diajak berbagi pengalaman, mengenali perasaan yang mereka alami, serta mempraktikkan teknik sederhana untuk mengurangi stres dan kecemasan. Suasana kegiatan berlangsung hangat dan partisipatif, memberikan ruang aman bagi para perempuan penyintas untuk saling mendukung dan menguatkan.
Melalui kegiatan ini, AWPF dan Dinas PPAKB Kabupaten Bener Meriah berharap para perempuan penyintas dapat memperoleh dukungan emosional, memperkuat ketahanan mental, serta membangun solidaritas sesama penyintas dalam menghadapi dampak bencana yang berulang. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya mendorong pemulihan yang lebih inklusif, dengan menempatkan kesehatan mental sebagai aspek penting dalam respons dan pemulihan pascabencana.

