AWPF Salurkan Bantuan Kemanusiaan bagi Penyintas Bencana Ekologis di Aceh Tengah

Aceh Tengah, 10 Januari 2026 —
Aceh Women’s Peace Foundation (AWPF) menyalurkan bantuan kemanusiaan bagi penyintas bencana ekologis di Kabupaten Aceh Tengah pada Sabtu, 10 Januari 2026. Distribusi bantuan dilakukan di beberapa wilayah terdampak, meliputi Kecamatan Bintang serta Kecamatan Laut Tawar, tepatnya di Dusun Rawe Toweren, Nosar, dan Jamur Konyel Bintang.

Bantuan yang disalurkan berupa bahan makanan pokok untuk mendukung kebutuhan dasar para penyintas yang hingga saat ini masih bertahan di posko-posko pengungsian. Tim AWPF menyalurkan bantuan melalui dapur umum yang dikelola di posko pengungsian, sebagai upaya memastikan bantuan dapat langsung dimanfaatkan oleh keluarga terdampak.

Direktur AWPF, Irma Sari, menyampaikan bahwa bantuan ini merupakan bentuk solidaritas dan kepedulian terhadap para penyintas bencana ekologis yang masih berada dalam situasi darurat.

“Bantuan dari AWPF kami berikan kepada para penyintas bencana ekologis yang saat ini masih tinggal di posko pengungsian dan disalurkan melalui dapur umum posko. Kami berharap bantuan ini dapat bermanfaat bagi keluarga penyintas,” ujar Irma Sari.

Ia juga menekankan pentingnya percepatan pemulihan pascabencana, khususnya penyediaan hunian sementara yang layak bagi para penyintas.

“Kami berharap para penyintas dapat segera dibuatkan hunian sementara agar mereka bisa kembali menjalani kehidupan yang lebih layak, terlebih menjelang bulan Ramadan,” tambahnya.

AWPF mendorong agar proses pemulihan pascabencana dilakukan secara adil dan inklusif, dengan memperhatikan hak-hak kelompok rentan, termasuk perempuan, anak, lansia, dan penyandang disabilitas. Pemulihan yang berperspektif keadilan dinilai penting agar tidak ada kelompok yang tertinggal dalam proses penanganan dan pemulihan bencana.

Tentang AWPF
Aceh Women’s Peace Foundation (AWPF) adalah organisasi masyarakat sipil yang berfokus pada penguatan peran perempuan dalam pembangunan perdamaian, keadilan sosial, serta perlindungan hak-hak kelompok rentan di Aceh.


AWPF Salurkan 200 Paket Bantuan Logistik bagi Penyintas Banjir di Gampong Tijeun Daboh, Pidie Jaya

Pidie Jaya28 Desember 2025. Aceh Women’s Peace Foundation (AWPF) melaksanakan kegiatan penyaluran bantuan logistik bagi penyintas banjir di Gampong Tijeun Daboh, Kecamatan Ulim, Kabupaten Pidie Jaya. Kegiatan ini dilaksanakan di Meunasah Gampong Tijeun Daboh dan diikuti oleh Keuchik (Kepala Desa) beserta aparatur gampong setempat.

Sebanyak 200 paket bantuan disalurkan kepada 200 kepala keluarga penyintas bencana banjir di Gampong Tijeun Daboh. Penyaluran bantuan ini merupakan bagian dari respons kemanusiaan AWPF terhadap bencana ekologis yang melanda wilayah Pidie Jaya.

Paket bantuan logistik yang disalurkan berisi kebutuhan pokok serta perlengkapan kesehatan dan kebersihan, meliputi sarden, sikat gigi, odol, sampo, sabun mandi, sabun cuci piring, biskuit, dan air minum. Bantuan ini diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan dasar keluarga penyintas di tengah keterbatasan pascabencana.

Dalam sambutannya, Direktur Aceh Women’s Peace Foundation menyampaikan apresiasi dan rasa syukur atas terlaksananya kegiatan tersebut.

“Kami merasa senang dapat memberikan sedikit bantuan kemanusiaan kepada para penyintas banjir di Pidie Jaya. Bantuan ini merupakan donasi dari berbagai pihak yang telah mempercayakan AWPF sebagai bagian dari tim yang melaksanakan kerja-kerja kemanusiaan di Aceh,” ujar Direktur AWPF.

Lebih lanjut disampaikan bahwa paket bantuan kemanusiaan ini diharapkan dapat memberikan kebahagiaan serta meringankan beban keluarga penyintas bencana ekologis, khususnya di Kabupaten Pidie Jaya dan Aceh pada umumnya.

Proses pembagian bantuan berlangsung secara tertib dan terkoordinasi dengan baik, sehingga seluruh penerima manfaat mendapatkan haknya secara adil dan merata.

Melalui kegiatan ini, AWPF menegaskan komitmennya untuk terus hadir mendampingi masyarakat terdampak bencana serta memperkuat solidaritas kemanusiaan di Aceh.


AWPF Selenggarakan Kegiatan Dukungan Psikososial bagi Anak-Anak Terdampak Bencana di Gampong Tijeun Daboh

Pidie Jaya, 28 Desember 2025 — Aceh Women’s Peace Foundation (AWPF) melaksanakan kegiatan dukungan psikososial bagi anak-anak di Gampong Tijeun Daboh, Kabupaten Pidie Jaya, pada Minggu, 28 Desember 2025. Kegiatan ini merupakan bagian dari kunjungan AWPF ke wilayah terdampak bencana ekologis yang terjadi di Aceh pada November 2025. Kegiatan dilaksanakan di Meunasah Gampong Tijeun Daboh.

Pelaksanaan kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesehatan mental dan kesejahteraan psikologis anak-anak yang terdampak bencana, sekaligus menciptakan ruang aman dan menyenangkan bagi mereka untuk kembali merasa nyaman, berinteraksi, dan membangun rasa percaya diri.

Seluruh rangkaian kegiatan difasilitasi langsung oleh fasilitator AWPF yang telah berpengalaman dalam pendampingan psikososial di situasi darurat dan pascabencana. Para fasilitator memastikan setiap anak dapat berpartisipasi secara aktif sesuai dengan usia dan kebutuhannya

Kegiatan dukungan psikososial ini diikuti oleh anak-anak dengan rentang usia 4 hingga 17 tahun. Berbagai aktivitas ramah anak dilaksanakan untuk membantu anak-anak mengekspresikan emosi, mengurangi kecemasan, serta memperkuat kondisi kesehatan mental mereka pascabencana.

Kegiatan tersebut secara resmi dibuka oleh perempuan kader gampong setempat sebagai bentuk keterlibatan komunitas dalam upaya pemulihan psikososial anak-anak di wilayah bencana. Seluruh rangkaian kegiatan kemudian difasilitasi oleh fasilitator AWPF yang memiliki pengalaman dalam pendampingan psikososial di situasi darurat dan pascabencana.

Direktur Aceh Women’s Peace Foundation, Ibu Irma Sari, menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi momen penting bagi AWPF untuk bersilaturahmi langsung dengan anak-anak terdampak bencana.

“Kami senang bisa bersilaturahmi dan berjumpa dengan anak-anak di Gampong Tijeun Daboh. Melihat mereka tertawa dan bergembira bersama setelah kecemasan melanda mereka akibat bencana ekologis di Aceh pada bulan November lalu menjadi penguatan bagi kami bahwa dukungan psikososial sangat dibutuhkan dalam proses pemulihan,” ujar Irma Sari.

Melalui kegiatan ini, AWPF berharap dapat berkontribusi dalam mendukung pemulihan kesehatan mental anak-anak di wilayah terdampak bencana serta mendorong perhatian berbagai pihak terhadap pentingnya layanan psikososial yang berkelanjutan bagi anak-anak dan komunitas pascabencana.


AWPF Lakukan assessment Penerima Manfaat Penyintas Bencana Ekologis di Pidie Jaya, Aceh

Pidie Jaya, 10 Desember 2025 — Aceh Women’s Peace Foundation (AWPF) melaksanakan kegiatan asesmen penerima manfaat bagi penyintas bencana ekologis di sejumlah desa di Kabupaten Pidie Jaya pada 10 Desember 2025. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya respons kemanusiaan AWPF untuk memastikan bantuan dan program pemulihan tepat sasaran dan berperspektif gender.

Asesmen dilakukan di desa-desa terdampak bencana dengan fokus pada penyintas yang terdampak langsung, khususnya perempuan, anak-anak, serta kelompok rentan lainnya. Kegiatan ini bertujuan untuk mengidentifikasi kondisi, kebutuhan, dan kerentanan penyintas secara lebih komprehensif sebagai dasar perencanaan intervensi kemanusiaan dan pemulihan pascabencana.

Direktur Aceh Women’s Peace Foundation, Irma Sari, menegaskan pentingnya kegiatan asesmen yang berfokus pada kelompok rentan.

“Penting bagi kami untuk melihat secara langsung kebutuhan kelompok rentan agar dapat diketahui bentuk penanganan atau treatment yang tepat bagi penyintas perempuan dan anak. Asesmen ini juga dilakukan untuk memperoleh data terpilah gender sehingga manfaat program dapat dirasakan secara adil oleh masyarakat di sekitar wilayah bencana,” ujar Irma Sari.

Hasil asesmen ini akan menjadi rujukan bagi AWPF dalam menyusun program dukungan kemanusiaan, termasuk bantuan logistik, dukungan psikososial, serta upaya perlindungan bagi perempuan dan anak di wilayah terdampak bencana ekologis.

Melalui kegiatan ini, AWPF menegaskan komitmennya untuk mengedepankan pendekatan berbasis kebutuhan dan keadilan gender dalam setiap respons kemanusiaan, guna memastikan bahwa kelompok paling rentan tidak terpinggirkan dalam proses pemulihan pascabencana.


AWPF dan Gerakan Perempuan Aceh Gelar Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan di Wilayah Bencana Pidie Jaya

Pidie Jaya, 10 Desember 2025 — Aceh Women’s Peace Foundation (AWPF) bersama Gerakan Perempuan Aceh melaksanakan kegiatan kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (16 HAKTP) bersama pengungsi terdampak bencana banjir dan longsor di Kabupaten Pidie Jaya. Kegiatan ini dilaksanakan pada 10 Desember 2025 di Meunasah Gampong Babah Krueng, Kecamatan Bandar Dua, Kabupaten Pidie Jaya.

Kegiatan kampanye ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan 16 HAKTP yang dilaksanakan di wilayah terdampak bencana sebagai upaya memastikan isu perlindungan perempuan tetap menjadi perhatian di tengah situasi darurat. Bencana banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah Aceh pada akhir November 2025 telah meningkatkan kerentanan perempuan, anak-anak, dan kelompok lanjut usia terhadap berbagai bentuk kekerasan dan tekanan psikososial.

Kegiatan diikuti oleh pengungsi, khususnya anak-anak serta ibu-ibu dan perempuan lanjut usia yang saat ini tinggal di lokasi pengungsian Gampong Babah Krueng. Berbagai aktivitas dilakukan dalam suasana ramah dan inklusif, dengan tujuan memberikan hiburan, memperkuat dukungan psikososial, serta menyampaikan pesan-pesan pencegahan kekerasan terhadap perempuan dalam konteks bencana.

Pelaksanaan kegiatan bertempat di Meunasah Gampong Babah Krueng yang difungsikan sebagai ruang berkumpul pengungsi dan pusat kegiatan komunitas. Melalui pendekatan yang partisipatif dan berbasis komunitas, AWPF dan Gerakan Perempuan Aceh berupaya menciptakan ruang aman bagi pengungsi perempuan dan anak untuk berinteraksi, berbagi pengalaman, serta memperoleh dukungan moral di tengah kondisi darurat.

AWPF menegaskan bahwa kampanye 16 HAKTP di wilayah bencana menjadi pengingat penting bahwa upaya pencegahan kekerasan terhadap perempuan tidak boleh terhenti meskipun dalam situasi krisis. Perlindungan perempuan dan kelompok rentan harus menjadi bagian integral dari respons kemanusiaan dan pemulihan pascabencana.


AWPF Salurkan Bantuan Logistik bagi Perempuan Penyintas Bencana dan Mahasiswa Terdampak Bencana Ekologis di Aceh

Banda Aceh, 3 Desember 2025 — Aceh Women’s Peace Foundation (AWPF) melaksanakan kegiatan penyaluran bantuan logistik kepada perempuan penyintas bencana alam yang berada di Anjungan Bener Meriah pada Selasa, 3 Desember 2025. Kegiatan ini merupakan bagian dari respons kemanusiaan AWPF terhadap bencana banjir yang melanda sejumlah wilayah Aceh pada akhir November 2025.

Penyaluran bantuan ini ditujukan kepada keluarga penyintas banjir yang mengalami kehilangan sanak saudara serta rumah tempat tinggal akibat bencana. Dalam situasi darurat tersebut, para penyintas menghadapi keterbatasan akses komunikasi karena terputusnya jaringan internet dan padamnya listrik, sehingga tidak dapat menginformasikan keberadaan dan kondisi mereka kepada keluarga maupun pihak terkait.

AWPF menyalurkan bantuan berupa kebutuhan pokok serta perlengkapan kesehatan dan kebersihan bagi perempuan dan keluarga penyintas bencana di lokasi pengungsian. Bantuan ini diharapkan dapat meringankan beban penyintas dalam memenuhi kebutuhan dasar, kesehatan, dan kebersihan di tengah kondisi krisis.

Selain penyaluran bantuan di Anjungan Bener Meriah, AWPF juga menyalurkan bantuan logistik berupa makanan ringan kepada mahasiswa asal Aceh Tengah dan Bener Meriah yang berada di Banda Aceh. Pada saat kejadian bencana, para mahasiswa tersebut mengalami kesulitan mengakses dana untuk membeli kebutuhan logistik sehari-hari di Banda Aceh akibat terganggunya kondisi keluarga dan jaringan komunikasi di daerah asal.

Penyaluran bantuan kepada mahasiswa ini merupakan bentuk solidaritas AWPF kepada penyintas bencana ekologis di Aceh, sekaligus upaya memastikan kelompok terdampak bencana, termasuk mahasiswa perantau, tetap mendapatkan dukungan kemanusiaan.

Melalui kegiatan ini, AWPF menegaskan komitmennya untuk terus hadir memberikan dukungan kepada perempuan dan kelompok rentan serta komunitas terdampak bencana ekologis di Aceh, baik di wilayah terdampak langsung maupun di luar daerah bencana.


Direktur AWPF Berpartisipasi dalam Indonesia Civil Society Forum (ICSF) 2025 di Jakarta ICSF 2025 Usung Tema “Membela Demokrasi, Menuntut Keadilan: Menaut Gerak Masyarakat Sipil”

Jakarta, 7 November 2025 – Aceh Women for Peace Foundation (AWPF) kembali menunjukkan komitmennya dalam memperjuangkan hak-hak perempuan dan perdamaian inklusif dengan berpartisipasi dalam Indonesia Civil Society Forum (ICSF) 2025. Acara yang berlangsung selama dua hari, pada 5–6 November 2025 di Hotel Aryaduta, Jakarta Pusat, menghadirkan ratusan aktivis, pegiat organisasi masyarakat sipil, dan pembela hak asasi manusia dari berbagai wilayah Indonesia.

Dengan tema utama “Membela Demokrasi, Menuntut Keadilan: Menaut Gerak Masyarakat Sipil,” ICSF 2025 menjadi wadah strategis bagi organisasi masyarakat sipil (OMS) untuk memperkuat solidaritas, kolaborasi lintas sektor, dan merumuskan strategi bersama menghadapi tantangan demokrasi dan ketidakadilan sosial di Indonesia. Forum ini diselenggarakan oleh Yappika bersama sejumlah organisasi masyarakat sipil berbasis di Jakarta.

Direktur AWPF, yang hadir secara langsung dalam kegiatan tersebut, mengikuti berbagai sesi diskusi yang membahas isu-isu krusial seperti pembelaan ruang sipil (civic space), perlindungan hak-hak perempuan dan kelompok rentan, peran generasi muda dalam demokrasi, serta strategi penguatan gerakan di tingkat akar rumput. Dalam salah satu sesi, Direktur AWPF menegaskan pentingnya memperluas ruang aman bagi perempuan korban kekerasan di tengah situasi yang terus berubah.

“ICSF merupakan ruang kritis untuk memastikan bahwa gerakan masyarakat sipil tetap kuat, bersolidaritas, dan mampu menjadi suara masyarakat yang terpinggirkan. Di tengah tantangan demokrasi yang kian kompleks, kita tidak boleh kehilangan arah perjuangan,” ujar Direktur AWPF.

Selain menjadi ruang refleksi, ICSF 2025 juga melahirkan rekomendasi bersama untuk memperkuat keterlibatan masyarakat dalam proses demokrasi, mendesak perlindungan bagi para pegiat hak asasi manusia, serta memastikan kebijakan publik berpihak pada keadilan dan keberlanjutan. Forum ini menegaskan gerakan masyarakat sipil sebagai kekuatan utama dalam menjaga demokrasi dan keadilan sosial di Indonesia.

Kegiatan ini diakhiri dengan seruan untuk terus memperluas jejaring, memperkuat narasi kolektif, dan membangun strategi advokasi yang inklusif dan berbasis solidaritas – terutama bagi kelompok perempuan, anak muda, dan minoritas yang paling sering terdampak ketidakadilan.


AWPF ikut serta dalam Pertemuan Strategis dengan Kedubes Kanada Bahas Kondisi Pengungsi Rohingya di Aceh

Banda Aceh, 5 November 2025 – Aceh Women for Peace Foundation (AWPF) mengadakan pertemuan penting dengan Perwakilan Kedutaan Besar Kanada untuk Indonesia pada 4 November 2025 di Hotel Hermes Place, Banda Aceh. Pertemuan ini diwakili langsung oleh Manager Program AWPF, Ibu Syafridah, dan membahas secara khusus mengenai kondisi pengungsi luar negeri, terutama pengungsi Rohingya yang saat ini berada di Aceh.

Dalam pertemuan tersebut, AWPF menyampaikan hasil pemantauan lapangan dan pembaruan informasi mengenai keberadaan para pengungsi Rohingya yang kini menempati tiga lokasi kamp pengungsian di Aceh. Ibu Syafridah menyoroti berbagai tantangan yang dihadapi para pengungsi, termasuk ketersediaan layanan dasar, perlindungan keamanan, dan kebutuhan dukungan psikososial, terutama bagi perempuan dan anak-anak.

“Kondisi para pengungsi Rohingya di Aceh memerlukan perhatian serius, terutama terkait pemenuhan hak-hak mereka sebagai pencari suaka. Kami berharap dukungan kemanusiaan yang berkelanjutan dapat terus mengalir, termasuk dari negara sahabat seperti Kanada,” ujar Syafridah

Kedutaan Besar Kanada untuk Indonesia menyatakan komitmennya dalam mendukung upaya-upaya kemanusiaan untuk pengungsi luar negeri di Indonesia. Dukungan tersebut mencakup kerja sama dengan organisasi lokal  dalam memastikan pendekatan yang inklusif dan responsif terhadap kebutuhan pengungsi.

“Kami mengapresiasi kerja AWPF dalam mendampingi dan memberi suara bagi kelompok pengungsi, khususnya di Aceh. Pemerintah Kanada akan terus mendukung upaya perlindungan dan pemenuhan hak-hak pengungsi di Indonesia,” demikian pernyataan pihak Kedubes Kanada dalam sesi diskusi.

Pertemuan ini diharapkan menjadi titik awal kerja sama jangka panjang antara AWPF dan Kedutaan Besar Kanada, serta memperkuat hubungan kemitraan dalam advokasi perlindungan hak asasi manusia dan penanganan krisis pengungsi di tingkat lokal dan internasional.

Sebagai lembaga yang aktif dalam isu perdamaian dan perlindungan kelompok rentan, AWPF akan terus berkomitmen untuk mengawal hak-hak pengungsi dan mengupayakan solusi berkelanjutan yang berpihak pada martabat kemanusiaan.


Panen Jagung Ketiga Kelompok Perempuan Dedingin Celala Berhasil, Dukung Kemandirian Petani Perempuan Gayo

Bener Meriah, 27 Oktober 2025 – Kelompok Perempuan Dedingin Celala yang berada di salah satu kampung di wilayah Gayo, yaitu kampung kute tanyung Kabupaten Bener Meriah, kembali meraih keberhasilan dengan melaksanakan panen jagung ketiga pada Senin (27/10/2025). Program pertanian jagung ini didukung sepenuhnya oleh Aceh Women’s for Peace Foundation (AWPF) sebagai upaya memperkuat kemandirian ekonomi perempuan di daerah pedesaan.

Panen yang berlangsung di lahan pertanian milik kelompok ini menunjukkan hasil yang memuaskan. Jagung yang dipanen tampak berkualitas baik dan mengalami peningkatan produksi dibanding panen sebelumnya. Hal ini menjadi bukti keberhasilan pendampingan yang dilakukan AWPF melalui program pemberdayaan perempuan petani.

Ketua Kelompok Perempuan Dedingin Celala ibu Syamsuriah, dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur dan bangga atas keberhasilan panen kali ini.

“Kami sangat senang dan bersyukur bisa kembali panen. Ini sudah panen yang ketiga, dan hasilnya sangat memuaskan. Berkat kerja sama dan semangat ibu-ibu di kelompok kami, kami bisa membuktikan bahwa perempuan juga mampu mengelola pertanian dengan baik,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Aceh Women’s for Peace Foundation (AWPF) menyampaikan apresiasi atas komitmen kelompok perempuan yang terus aktif mengembangkan kapasitas mereka di sektor pertanian.

“Kami sangat bangga dapat mendampingi perempuan-perempuan hebat yang bekerja sebagai petani ini. Program ini bukan hanya soal hasil panen, tetapi tentang membangun kemandirian ekonomi dan meningkatkan kepercayaan diri perempuan agar lebih aktif berperan dalam pembangunan desa,” katanya.

Program pertanian yang dijalankan oleh AWPF ini tidak hanya fokus pada pembiayaan, tetapi juga memberikan pelatihan teknis pertanian, pengelolaan kelompok, serta penguatan kapasitas perempuan dalam usaha ekonomi produktif.
Keberhasilan ini diharapkan menjadi inspirasi bagi kelompok perempuan lainnya di Aceh untuk terus aktif meningkatkan kesejahteraan keluarga melalui usaha bersama dan kerja kolektif berbasis komunitas. Kelompok Dedingin Celala juga berencana memperluas lahan garapan serta mengembangkan produk turunan jagung agar memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi.
Panen jagung ketiga ini menjadi momentum penting bahwa perempuan pedesaan mampu bangkit dan berdaya ketika diberi ruang, kesempatan, dan dukungan.

 

 

Direktur AWPF Hadiri ASEAN Civil Society Conference di Kuala Lumpur, Bahas Isu Kemanusiaan Kawasan

Kuala Lumpur, 15 Oktober 2025 – Direktur Aceh Women Peace Foundation (AWPF), Irma Sari, menjadi salah satu peserta dalam ASEAN Civil Society Conference (ACSC) yang berlangsung pada 14–15 Oktober 2025 di Kuala Lumpur, Malaysia. Kegiatan ini diikuti oleh ratusan perwakilan organisasi masyarakat sipil dari seluruh negara anggota ASEAN yang fokus pada isu perdamaian, hak asasi manusia, dan keadilan sosial di kawasan Asia Tenggara.

Dengan mengusung tema “ASEAN Hidden”, konferensi ini menyoroti beragam persoalan kemanusiaan yang kerap tersembunyi di balik narasi stabilitas kawasan. Dalam sesi utama, HE. Edmund Bon Tai Sin, Ketua ASEAN Intergovernmental Commission on Human Rights (AICHR), menyampaikan pandangan kritis terhadap kondisi hak asasi manusia di beberapa negara ASEAN, termasuk krisis kemanusiaan yang terus berlangsung terhadap etnis Rohingya di Myanmar serta berbagai pelanggaran HAM di negara lain di kawasan ini.

Dalam forum tersebut, Irma Sari menyampaikan pentingnya peran masyarakat sipil, khususnya kepemimpinan perempuan, dalam memperjuangkan nilai kemanusiaan lintas batas negara. “Kita perlu memperkuat solidaritas masyarakat sipil ASEAN agar suara kelompok rentan — perempuan, anak, dan pengungsi — tidak tenggelam dalam kebijakan politik regional,” ujarnya.

Selain menjadi ajang berbagi pengalaman dan strategi advokasi, konferensi ini juga membuka ruang dialog antara organisasi masyarakat sipil dengan perwakilan lembaga resmi ASEAN. Beberapa isu utama yang dibahas meliputi pengungsi lintas negara, krisis iklim, kebebasan berekspresi, serta keadilan sosial dan gender.

Partisipasi AWPF dalam konferensi ini menjadi bagian dari komitmen lembaga untuk terus memperjuangkan perdamaian, kesetaraan gender, dan pemenuhan hak asasi manusia, baik di Aceh, Indonesia, maupun di kawasan Asia Tenggara secara lebih luas.