AWPF dan Yayasan Kemanusiaan Madani Indonesia Berbagi Takjil untuk Pengungsi Luar Negeri Terdampak Bencana di Aceh

Aceh, 10 Maret 2026 – Aceh Women’s Peace Foundation (AWPF) bekerja sama dengan Yayasan Kemanusiaan Madani Indonesia melaksanakan kegiatan berbagi takjil atau makanan berbuka puasa kepada pengungsi luar negeri yang terdampak bencana di Kabupaten Pidie, Aceh. Kegiatan ini dilakukan sebagai bentuk kepedulian kemanusiaan serta solidaritas kepada para pengungsi yang sedang menjalani ibadah puasa di bulan suci Ramadan.

Dalam kegiatan ini, tim menyalurkan makanan berbuka puasa yang bergizi untuk membantu memenuhi kebutuhan energi serta nilai gizi yang baik bagi para pengungsi yang sedang menjalankan ibadah puasa. Bantuan makanan tersebut diharapkan dapat memberikan dukungan bagi mereka yang masih berada dalam situasi pemulihan akibat bencana.

Direktur AWPF menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh tim Yayasan Kemanusiaan Madani Indonesia yang telah berkolaborasi dalam kegiatan kemanusiaan ini.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada semua tim Yayasan Kemanusiaan Madani Indonesia yang telah bersama-sama menyalurkan takjil dan berbagi dengan para pengungsi luar negeri di Kabupaten Pidie yang terdampak bencana. Kami sangat senang dapat berbagi dengan para pengungsi di bulan Ramadan yang penuh berkah ini,” ujar Direktur AWPF.

Ia juga menambahkan bahwa kegiatan berbagi di bulan Ramadan memiliki makna yang sangat penting, tidak hanya sebagai bentuk kepedulian sosial tetapi juga sebagai penguat nilai kemanusiaan dan solidaritas.

“Kami percaya bahwa berbagi di bulan Ramadan akan membawa keberkahan dan menambah pahala bagi semua pihak yang terlibat, sekaligus memperkuat rasa persaudaraan dan kemanusiaan,” tambahnya.


Peringatan International Women’s Day 2026 di Banda Aceh: Perempuan Penyintas Sekaligus Penggerak Pemulihan Pasca Bencana

Banda Aceh, 8 Maret 2026 – Dalam rangka memperingati International Women’s Day (IWD) 2026, Aceh Women’s Peace Foundation (AWPF) menyelenggarakan rangkaian kegiatan di Banda Aceh pada 8 Maret 2026. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pemenuhan hak-hak perempuan, khususnya dalam konteks penanganan dan pemulihan pasca bencana di Aceh.

Rangkaian kegiatan dimulai dengan edukasi kepada mahasiswa dan masyarakat umum mengenai makna dan sejarah peringatan International Women’s Day. Selain itu, AWPF juga menggelar kampanye melalui media sosial untuk mengajak masyarakat lebih peduli terhadap isu kesetaraan gender dan perlindungan perempuan. Kegiatan kemudian ditutup dengan buka puasa bersama sebagai ruang kebersamaan dan refleksi atas peran penting perempuan dalam masyarakat.

Dalam kesempatan tersebut, AWPF menegaskan bahwa pengalaman pasca bencana di Aceh menunjukkan bahwa perempuan tidak hanya berperan sebagai penyintas, tetapi juga sebagai penggerak utama dalam proses pemulihan komunitas. Banyak perempuan yang berperan sebagai penjaga keluarga, mendistribusikan bantuan, serta memastikan kebutuhan dan hak-hak para penyintas dapat terpenuhi.

Direktur AWPF menyampaikan bahwa pemenuhan hak perempuan bukanlah pilihan, melainkan kewajiban yang harus dipenuhi oleh negara.

“Perempuan dalam situasi bencana sering menghadapi kerentanan berlapis. Oleh karena itu, pemenuhan hak-hak perempuan harus menjadi prioritas, mulai dari akses terhadap keadilan, layanan kesehatan, dukungan psikososial, hingga keterlibatan perempuan dalam proses pengambilan keputusan,” ujarnya.

AWPF juga mengajak semua pihak, termasuk pemerintah, organisasi masyarakat sipil, komunitas, serta para pemangku kepentingan lainnya, untuk bersama-sama memastikan pemenuhan hak-hak perempuan di Aceh. Hal ini mencakup penguatan akses perempuan terhadap keadilan, layanan kesehatan yang responsif gender, dukungan psikososial bagi penyintas, serta memastikan perempuan memiliki ruang yang setara dalam pengambilan keputusan terkait penanganan bencana dan pembangunan perdamaian.

Melalui peringatan International Women’s Day 2026 ini, AWPF berharap semakin banyak pihak yang terlibat dalam upaya memperjuangkan kesetaraan, keadilan, dan perlindungan bagi perempuan, khususnya dalam situasi krisis dan bencana.

Selamat Hari Perempuan Internasional 2026.
Bersama, kita wujudkan dunia yang lebih adil, setara, dan inklusif bagi semua perempuan.


AWPF Audiensi dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan KB Kabupaten Bener Meriah Bahas Pemulihan Penyintas Pasca Bencana

Bener Meriah – 5 Maret 2026 Aceh Women’s Peace Foundation (AWPF) melakukan audiensi dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Kabupaten Bener Meriah dalam rangka memperkuat koordinasi pemulihan bagi para penyintas pasca bencana di Kabupaten Bener Meriah.

Pertemuan ini menjadi bagian dari upaya membangun kolaborasi antara organisasi masyarakat sipil dan pemerintah daerah dalam memastikan proses pemulihan yang lebih inklusif, khususnya bagi perempuan dan kelompok rentan yang terdampak bencana.

Direktur AWPF, Irma Sari, menyampaikan bahwa audiensi ini bertujuan untuk melakukan koordinasi awal terkait rencana kegiatan pemulihan bagi para penyintas di Kabupaten Bener Meriah yang direncanakan akan dilaksanakan pada bulan April mendatang.

“Kegiatan ini merupakan bagian dari koordinasi AWPF dengan pemerintah daerah untuk mendukung proses pemulihan bagi para penyintas di Bener Meriah. Kami berharap kolaborasi ini dapat berjalan dengan lancar dan memberikan manfaat bagi para penyintas bencana,” ujar Irma Sari.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana Kabupaten Bener Meriah, Bapak Edi Jaswin, S.Kes, M.Si, juga menyambut baik rencana kegiatan pemulihan yang akan dilaksanakan oleh AWPF. Ia menyampaikan dukungannya terhadap upaya kolaborasi antara pemerintah daerah dan organisasi masyarakat sipil dalam membantu para penyintas bencana, khususnya perempuan dan anak.

AWPF selama ini aktif melakukan pendampingan kepada perempuan dan komunitas terdampak bencana, termasuk melalui dukungan psikososial, penguatan kapasitas komunitas, serta advokasi pemenuhan hak-hak penyintas.

Melalui audiensi ini, diharapkan kerja sama antara AWPF dan Pemerintah Kabupaten Bener Meriah dapat semakin memperkuat upaya pemulihan pasca bencana yang responsif gender, inklusif, dan berkelanjutan, sehingga para penyintas dapat kembali menjalani kehidupan secara lebih aman dan bermartabat.


AWPF Gelar Pelatihan Paralegal Perempuan untuk Perkuat Akses Keadilan di Bener Meriah

Bener Meriah, Aceh | 7–8 Februari 2026.  Aceh Women’s for Peace Foundation (AWPF) menyelenggarakan Pelatihan Paralegal Perempuan pada 7–8 Februari 2026 di Aula Shindico, Bale Atu, Kabupaten Bener Meriah. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat kapasitas perempuan di tingkat komunitas dalam pendampingan kasus serta perlindungan hak perempuan dan anak.

Pelatihan ini difasilitasi oleh Ibu Samsidar, demisioner Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) Jakarta, bersama Sepang, seorang aktivis perempuan senior yang telah lama terlibat dalam kerja-kerja advokasi dan pendampingan korban. Sebanyak 20 orang perempuan dari komunitas Dedingin Celala dan Petire Pitu mengikuti pelatihan ini secara aktif.

Selama dua hari pelatihan, peserta dibekali pemahaman mengenai dasar-dasar hukum, termasuk hak asasi manusia, hukum pidana dan perdata sederhana, serta kerangka hukum perlindungan perempuan dan anak. Peserta juga mempelajari alur penanganan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak (KTPA), termasuk mekanisme rujukan ke layanan terkait seperti UPTD PPA, kepolisian, layanan kesehatan, dan bantuan hukum.

Hasil pelatihan menunjukkan adanya peningkatan kapasitas peserta dalam mengenali berbagai bentuk kekerasan, diskriminasi, dan pelanggaran hak di komunitas. Peserta kini memiliki pemahaman yang lebih kuat untuk melakukan pendampingan awal, memberikan edukasi hukum, serta menghubungkan korban dengan layanan yang aman dan berpihak pada korban.

Selain itu, pelatihan ini menghasilkan terbentuknya paralegal komunitas di tingkat kampung/gampong. Para paralegal perempuan memiliki peran strategis sebagai penghubung antara korban dan sistem layanan, serta sebagai agen perubahan yang mendorong kesadaran hukum di masyarakat.

Keberadaan paralegal komunitas ini diharapkan dapat meningkatkan akses keadilan bagi korban, khususnya perempuan dan kelompok rentan. Korban menjadi lebih berani untuk melapor dan mencari bantuan, sementara kasus-kasus kekerasan dapat diidentifikasi dan ditangani lebih cepat, aman, dan berperspektif korban.

Pelatihan ini juga berkontribusi pada penguatan sistem perlindungan di komunitas, melalui terbentuknya jejaring kerja antara paralegal, aparat kampung, tokoh masyarakat, dan lembaga layanan. Mekanisme rujukan dan penanganan kasus di tingkat lokal mulai terbangun, seiring meningkatnya kesadaran hukum masyarakat melalui edukasi dan diskusi komunitas yang dilakukan oleh para paralegal.

Dalam jangka menengah, kegiatan ini diharapkan dapat mengurangi praktik pembiaran dan normalisasi kekerasan, mendorong komunitas yang lebih responsif dan sensitif gender, serta berkontribusi pada upaya pencegahan kekerasan dan pembangunan perdamaian berbasis komunitas di Kabupaten Bener Meriah.

Melalui pelatihan ini, AWPF menegaskan komitmennya untuk memperkuat kepemimpinan perempuan di akar rumput dan memastikan keadilan serta perlindungan hak dapat diakses oleh semua, terutama perempuan dan kelompok rentan.


AWPF Berikan Dukungan Psikologis dan Edukasi Pencegahan Kekerasan bagi Perempuan dan Anak di Pengungsian Jamur Ujung

Bener Meriah, 6 Februari 2026
Aceh Women Peace Foundation (AWPF) melaksanakan kegiatan dukungan psikologis, penyaluran bantuan kemanusiaan, serta sosialisasi pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak di Desa Jamur Ujung, Kecamatan Wih Pesam, Kabupaten Bener Meriah, sebagai bagian dari respons pascabencana hidrometeorologi.

Kegiatan ini dilaksanakan di dua posko pengungsian yang mayoritas penghuninya adalah perempuan dan anak. Dalam kondisi pengungsian yang rentan, AWPF berupaya memastikan pemulihan psikologis sekaligus perlindungan bagi kelompok paling terdampak.

Dukungan psikologis diberikan melalui pendekatan ramah anak dan empatik, dengan menciptakan ruang aman bagi anak-anak untuk bermain, berekspresi, dan berinteraksi secara positif. Anak-anak juga menerima makanan ringan serta bantuan pendidikan, berupa buku gambar, buku mewarnai, crayon, pensil warna, dan pensil, guna membantu menjaga kesejahteraan emosional sekaligus mendukung aktivitas belajar mereka di pengungsian.

Selain itu, AWPF menyalurkan bantuan kebutuhan pokok kepada keluarga pengungsi berupa beras dan minyak goreng, sebagai upaya untuk membantu pemenuhan kebutuhan dasar sehari-hari di tengah situasi darurat.

Tidak hanya berfokus pada bantuan material, kegiatan ini juga diisi dengan sosialisasi pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak di pengungsian. Sosialisasi ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran pengungsi mengenai risiko kekerasan berbasis gender dan kekerasan terhadap anak dalam situasi krisis, serta memperkenalkan langkah-langkah pencegahan dan pentingnya saling menjaga di lingkungan pengungsian.

Direktur Aceh Women Peace Foundation, Irma Sari, yang menjadi fasilitator dalam pertemuan tersebut, menekankan pentingnya perlindungan perempuan dan anak dalam situasi bencana.

“Pengungsian sering kali menjadi ruang yang sangat rentan bagi perempuan dan anak. Karena itu, selain bantuan pangan dan dukungan psikologis, edukasi tentang pencegahan kekerasan menjadi hal yang tidak bisa dipisahkan dari respons kemanusiaan,” ujar Irma Sari.

Melalui kegiatan ini, AWPF menegaskan komitmennya untuk menghadirkan respons kemanusiaan yang holistik, tidak hanya memenuhi kebutuhan dasar, tetapi juga memastikan keamanan, martabat, dan perlindungan hak perempuan dan anak di situasi pengungsian pasca bencana.


AWPF Salurkan Dukungan Psikososial dan Bantuan Kemanusiaan bagi Perempuan dan Anak Pascabencana di Bener Meriah

Bener Meriah, Aceh 5 Februari 2026

Aceh Women Peace Foundation (AWPF) melaksanakan kegiatan dukungan psikososial dan penyaluran bantuan kemanusiaan bagi perempuan, anak, lansia, penyandang disabilitas, serta kelompok rentan lainnya yang terdampak bencana hidrometeorologi di Kabupaten Bener Meriah pada 5 Februari 2026.

Kegiatan ini dilaksanakan di tiga lokasi, yaitu Desa Gayo Setie (Kecamatan Gajah Putih), Desa Meriah Jaya Dusun Pantan Bayur, dan Desa Pantan Kemuning (Kecamatan Timang Gajah). Program ini bertujuan untuk mendukung pemulihan psikososial penyintas sekaligus memenuhi kebutuhan dasar kelompok paling rentan pascabencana.

Di Desa Gayo Setie, AWPF memfasilitasi kegiatan dukungan psikososial bagi 30 anak tingkat SD dan SMP melalui aktivitas bermain dan ekspresif yang difasilitasi oleh tim AWPF yang telah mendapatkan pelatihan khusus dari psikolog. Selain itu, 20 perempuan dari kelompok rentan menerima bantuan kemanusiaan berupa hygiene kit, family kit, food kit, serta makanan ringan. Anak-anak juga menerima bantuan pendidikan berupa buku tulis, alat tulis, dan tas sekolah.

Sementara itu, di Desa Meriah Jaya Dusun Pantan Bayur, kegiatan dukungan psikososial dilakukan bersama 20 anak berusia 5–15 tahun melalui aktivitas bernyanyi, bercerita, dan bermain. Kegiatan ini menciptakan ruang aman bagi anak sekaligus membantu meredakan stres pascabencana. Pada kesempatan yang sama, bantuan kemanusiaan juga disalurkan kepada ibu hamil, ibu menyusui, lansia, penyandang disabilitas, dan kelompok rentan lainnya.

Di Desa Pantan Kemuning, dukungan psikososial dilaksanakan bagi 50 anak dan remaja dengan pendekatan yang ramah anak dan partisipatif. AWPF juga menyalurkan hygiene kit, food kit, family kit, serta makanan ringan kepada anak-anak dan keluarga terdampak.

Direktur Aceh Women Peace Foundation, Irma Sari, menegaskan bahwa pemulihan pascabencana harus dilakukan secara menyeluruh dan berperspektif keadilan gender.

“Bencana tidak hanya berdampak pada fisik, tetapi juga meninggalkan luka psikologis yang dalam, terutama bagi perempuan dan anak. Melalui kegiatan ini, kami ingin memastikan bahwa kelompok paling rentan mendapatkan ruang aman untuk pulih, sekaligus akses terhadap kebutuhan dasar yang layak dan bermartabat,” ujar Irma Sari.

Hasil kegiatan menunjukkan dampak positif, antara lain menurunnya tingkat kecemasan, meningkatnya rasa aman dan kepercayaan diri anak, penguatan resiliensi perempuan, serta meningkatnya rasa perlindungan bagi lansia dan penyandang disabilitas. Penyaluran bantuan kemanusiaan juga berkontribusi pada pemenuhan kebutuhan dasar, peningkatan kesehatan dan kebersihan, pengurangan beban ekonomi keluarga, serta keberlanjutan pendidikan anak.

Melalui kegiatan ini, AWPF menegaskan komitmennya untuk menghadirkan respons kemanusiaan yang berperspektif gender, ramah anak, dan inklusif, serta mendorong pemulihan berkelanjutan bagi komunitas terdampak bencana di Aceh.


AWPF Salurkan Paket Kehormatan dan Bantuan Pangan bagi Penyintas Bencana di Bener Meriah dan Aceh Tengah

Bener Meriah, 9 Februari 2026 – Aceh Women’s Peace Foundation (AWPF) menyalurkan bantuan berupa paket food (pangan) dan paket kehormatan kepada perempuan penyintas bencana serta para pemangku kepentingan yang terdampak bencana di Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah. Kegiatan penyaluran bantuan ini dilaksanakan pada 9 Februari 2026 di Kabupaten Bener Meriah sebagai bagian dari komitmen AWPF dalam mendukung pemulihan masyarakat terdampak bencana, khususnya perempuan dan kelompok rentan.

Bantuan yang disalurkan meliputi paket pangan serta paket kehormatan yang berisi mukena, kain sarung, pakaian anak-anak, dan kebutuhan dasar lainnya. Bantuan ini diberikan kepada penyintas bencana dan komunitas yang selama ini menjadi bagian dari kelompok dampingan AWPF.

Direktur AWPF menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian dan solidaritas terhadap para penyintas bencana yang hingga saat ini masih menghadapi berbagai keterbatasan.

“AWPF sangat senang dapat berbagi dengan para penyintas bencana, terlebih menjelang datangnya bulan suci Ramadan yang penuh berkah. Kami berharap bantuan berupa paket food dan paket kehormatan ini dapat sedikit meringankan kebutuhan keluarga penyintas serta memberikan semangat bagi mereka untuk terus bangkit,” ujar Direktur AWPF.

Menurut AWPF, perempuan dan anak-anak seringkali menjadi kelompok yang paling rentan dalam situasi bencana. Oleh karena itu, pendekatan bantuan yang sensitif terhadap kebutuhan perempuan menjadi penting agar proses pemulihan dapat berlangsung lebih adil dan inklusif.

Selain menyalurkan bantuan, AWPF selama ini juga melakukan pendampingan kepada kelompok perempuan di komunitas, termasuk penguatan kapasitas, dukungan psikososial, serta advokasi perlindungan bagi perempuan penyintas kekerasan dan bencana.

Melalui kegiatan ini, AWPF berharap paket bantuan yang disalurkan dapat memberikan manfaat nyata bagi para penyintas serta memperkuat solidaritas kemanusiaan di tengah masyarakat yang sedang menghadapi masa pemulihan pascabencana.


AWPF Salurkan Bantuan Kemanusiaan bagi Penyintas Bencana Ekologis di Aceh Tengah

Aceh Tengah, 10 Januari 2026 —
Aceh Women’s Peace Foundation (AWPF) menyalurkan bantuan kemanusiaan bagi penyintas bencana ekologis di Kabupaten Aceh Tengah pada Sabtu, 10 Januari 2026. Distribusi bantuan dilakukan di beberapa wilayah terdampak, meliputi Kecamatan Bintang serta Kecamatan Laut Tawar, tepatnya di Dusun Rawe Toweren, Nosar, dan Jamur Konyel Bintang.

Bantuan yang disalurkan berupa bahan makanan pokok untuk mendukung kebutuhan dasar para penyintas yang hingga saat ini masih bertahan di posko-posko pengungsian. Tim AWPF menyalurkan bantuan melalui dapur umum yang dikelola di posko pengungsian, sebagai upaya memastikan bantuan dapat langsung dimanfaatkan oleh keluarga terdampak.

Direktur AWPF, Irma Sari, menyampaikan bahwa bantuan ini merupakan bentuk solidaritas dan kepedulian terhadap para penyintas bencana ekologis yang masih berada dalam situasi darurat.

“Bantuan dari AWPF kami berikan kepada para penyintas bencana ekologis yang saat ini masih tinggal di posko pengungsian dan disalurkan melalui dapur umum posko. Kami berharap bantuan ini dapat bermanfaat bagi keluarga penyintas,” ujar Irma Sari.

Ia juga menekankan pentingnya percepatan pemulihan pascabencana, khususnya penyediaan hunian sementara yang layak bagi para penyintas.

“Kami berharap para penyintas dapat segera dibuatkan hunian sementara agar mereka bisa kembali menjalani kehidupan yang lebih layak, terlebih menjelang bulan Ramadan,” tambahnya.

AWPF mendorong agar proses pemulihan pascabencana dilakukan secara adil dan inklusif, dengan memperhatikan hak-hak kelompok rentan, termasuk perempuan, anak, lansia, dan penyandang disabilitas. Pemulihan yang berperspektif keadilan dinilai penting agar tidak ada kelompok yang tertinggal dalam proses penanganan dan pemulihan bencana.

Tentang AWPF
Aceh Women’s Peace Foundation (AWPF) adalah organisasi masyarakat sipil yang berfokus pada penguatan peran perempuan dalam pembangunan perdamaian, keadilan sosial, serta perlindungan hak-hak kelompok rentan di Aceh.


AWPF Salurkan 200 Paket Bantuan Logistik bagi Penyintas Banjir di Gampong Tijeun Daboh, Pidie Jaya

Pidie Jaya28 Desember 2025. Aceh Women’s Peace Foundation (AWPF) melaksanakan kegiatan penyaluran bantuan logistik bagi penyintas banjir di Gampong Tijeun Daboh, Kecamatan Ulim, Kabupaten Pidie Jaya. Kegiatan ini dilaksanakan di Meunasah Gampong Tijeun Daboh dan diikuti oleh Keuchik (Kepala Desa) beserta aparatur gampong setempat.

Sebanyak 200 paket bantuan disalurkan kepada 200 kepala keluarga penyintas bencana banjir di Gampong Tijeun Daboh. Penyaluran bantuan ini merupakan bagian dari respons kemanusiaan AWPF terhadap bencana ekologis yang melanda wilayah Pidie Jaya.

Paket bantuan logistik yang disalurkan berisi kebutuhan pokok serta perlengkapan kesehatan dan kebersihan, meliputi sarden, sikat gigi, odol, sampo, sabun mandi, sabun cuci piring, biskuit, dan air minum. Bantuan ini diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan dasar keluarga penyintas di tengah keterbatasan pascabencana.

Dalam sambutannya, Direktur Aceh Women’s Peace Foundation menyampaikan apresiasi dan rasa syukur atas terlaksananya kegiatan tersebut.

“Kami merasa senang dapat memberikan sedikit bantuan kemanusiaan kepada para penyintas banjir di Pidie Jaya. Bantuan ini merupakan donasi dari berbagai pihak yang telah mempercayakan AWPF sebagai bagian dari tim yang melaksanakan kerja-kerja kemanusiaan di Aceh,” ujar Direktur AWPF.

Lebih lanjut disampaikan bahwa paket bantuan kemanusiaan ini diharapkan dapat memberikan kebahagiaan serta meringankan beban keluarga penyintas bencana ekologis, khususnya di Kabupaten Pidie Jaya dan Aceh pada umumnya.

Proses pembagian bantuan berlangsung secara tertib dan terkoordinasi dengan baik, sehingga seluruh penerima manfaat mendapatkan haknya secara adil dan merata.

Melalui kegiatan ini, AWPF menegaskan komitmennya untuk terus hadir mendampingi masyarakat terdampak bencana serta memperkuat solidaritas kemanusiaan di Aceh.


AWPF Selenggarakan Kegiatan Dukungan Psikososial bagi Anak-Anak Terdampak Bencana di Gampong Tijeun Daboh

Pidie Jaya, 28 Desember 2025 — Aceh Women’s Peace Foundation (AWPF) melaksanakan kegiatan dukungan psikososial bagi anak-anak di Gampong Tijeun Daboh, Kabupaten Pidie Jaya, pada Minggu, 28 Desember 2025. Kegiatan ini merupakan bagian dari kunjungan AWPF ke wilayah terdampak bencana ekologis yang terjadi di Aceh pada November 2025. Kegiatan dilaksanakan di Meunasah Gampong Tijeun Daboh.

Pelaksanaan kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesehatan mental dan kesejahteraan psikologis anak-anak yang terdampak bencana, sekaligus menciptakan ruang aman dan menyenangkan bagi mereka untuk kembali merasa nyaman, berinteraksi, dan membangun rasa percaya diri.

Seluruh rangkaian kegiatan difasilitasi langsung oleh fasilitator AWPF yang telah berpengalaman dalam pendampingan psikososial di situasi darurat dan pascabencana. Para fasilitator memastikan setiap anak dapat berpartisipasi secara aktif sesuai dengan usia dan kebutuhannya

Kegiatan dukungan psikososial ini diikuti oleh anak-anak dengan rentang usia 4 hingga 17 tahun. Berbagai aktivitas ramah anak dilaksanakan untuk membantu anak-anak mengekspresikan emosi, mengurangi kecemasan, serta memperkuat kondisi kesehatan mental mereka pascabencana.

Kegiatan tersebut secara resmi dibuka oleh perempuan kader gampong setempat sebagai bentuk keterlibatan komunitas dalam upaya pemulihan psikososial anak-anak di wilayah bencana. Seluruh rangkaian kegiatan kemudian difasilitasi oleh fasilitator AWPF yang memiliki pengalaman dalam pendampingan psikososial di situasi darurat dan pascabencana.

Direktur Aceh Women’s Peace Foundation, Ibu Irma Sari, menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi momen penting bagi AWPF untuk bersilaturahmi langsung dengan anak-anak terdampak bencana.

“Kami senang bisa bersilaturahmi dan berjumpa dengan anak-anak di Gampong Tijeun Daboh. Melihat mereka tertawa dan bergembira bersama setelah kecemasan melanda mereka akibat bencana ekologis di Aceh pada bulan November lalu menjadi penguatan bagi kami bahwa dukungan psikososial sangat dibutuhkan dalam proses pemulihan,” ujar Irma Sari.

Melalui kegiatan ini, AWPF berharap dapat berkontribusi dalam mendukung pemulihan kesehatan mental anak-anak di wilayah terdampak bencana serta mendorong perhatian berbagai pihak terhadap pentingnya layanan psikososial yang berkelanjutan bagi anak-anak dan komunitas pascabencana.