AWPF dan Yayasan Kemanusiaan Madani Indonesia Berbagi Takjil untuk Pengungsi Luar Negeri Terdampak Bencana di Aceh

Aceh, 10 Maret 2026 – Aceh Women’s Peace Foundation (AWPF) bekerja sama dengan Yayasan Kemanusiaan Madani Indonesia melaksanakan kegiatan berbagi takjil atau makanan berbuka puasa kepada pengungsi luar negeri yang terdampak bencana di Kabupaten Pidie, Aceh. Kegiatan ini dilakukan sebagai bentuk kepedulian kemanusiaan serta solidaritas kepada para pengungsi yang sedang menjalani ibadah puasa di bulan suci Ramadan.

Dalam kegiatan ini, tim menyalurkan makanan berbuka puasa yang bergizi untuk membantu memenuhi kebutuhan energi serta nilai gizi yang baik bagi para pengungsi yang sedang menjalankan ibadah puasa. Bantuan makanan tersebut diharapkan dapat memberikan dukungan bagi mereka yang masih berada dalam situasi pemulihan akibat bencana.

Direktur AWPF menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh tim Yayasan Kemanusiaan Madani Indonesia yang telah berkolaborasi dalam kegiatan kemanusiaan ini.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada semua tim Yayasan Kemanusiaan Madani Indonesia yang telah bersama-sama menyalurkan takjil dan berbagi dengan para pengungsi luar negeri di Kabupaten Pidie yang terdampak bencana. Kami sangat senang dapat berbagi dengan para pengungsi di bulan Ramadan yang penuh berkah ini,” ujar Direktur AWPF.

Ia juga menambahkan bahwa kegiatan berbagi di bulan Ramadan memiliki makna yang sangat penting, tidak hanya sebagai bentuk kepedulian sosial tetapi juga sebagai penguat nilai kemanusiaan dan solidaritas.

“Kami percaya bahwa berbagi di bulan Ramadan akan membawa keberkahan dan menambah pahala bagi semua pihak yang terlibat, sekaligus memperkuat rasa persaudaraan dan kemanusiaan,” tambahnya.


Peringatan International Women’s Day 2026 di Banda Aceh: Perempuan Penyintas Sekaligus Penggerak Pemulihan Pasca Bencana

Banda Aceh, 8 Maret 2026 – Dalam rangka memperingati International Women’s Day (IWD) 2026, Aceh Women’s Peace Foundation (AWPF) menyelenggarakan rangkaian kegiatan di Banda Aceh pada 8 Maret 2026. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pemenuhan hak-hak perempuan, khususnya dalam konteks penanganan dan pemulihan pasca bencana di Aceh.

Rangkaian kegiatan dimulai dengan edukasi kepada mahasiswa dan masyarakat umum mengenai makna dan sejarah peringatan International Women’s Day. Selain itu, AWPF juga menggelar kampanye melalui media sosial untuk mengajak masyarakat lebih peduli terhadap isu kesetaraan gender dan perlindungan perempuan. Kegiatan kemudian ditutup dengan buka puasa bersama sebagai ruang kebersamaan dan refleksi atas peran penting perempuan dalam masyarakat.

Dalam kesempatan tersebut, AWPF menegaskan bahwa pengalaman pasca bencana di Aceh menunjukkan bahwa perempuan tidak hanya berperan sebagai penyintas, tetapi juga sebagai penggerak utama dalam proses pemulihan komunitas. Banyak perempuan yang berperan sebagai penjaga keluarga, mendistribusikan bantuan, serta memastikan kebutuhan dan hak-hak para penyintas dapat terpenuhi.

Direktur AWPF menyampaikan bahwa pemenuhan hak perempuan bukanlah pilihan, melainkan kewajiban yang harus dipenuhi oleh negara.

“Perempuan dalam situasi bencana sering menghadapi kerentanan berlapis. Oleh karena itu, pemenuhan hak-hak perempuan harus menjadi prioritas, mulai dari akses terhadap keadilan, layanan kesehatan, dukungan psikososial, hingga keterlibatan perempuan dalam proses pengambilan keputusan,” ujarnya.

AWPF juga mengajak semua pihak, termasuk pemerintah, organisasi masyarakat sipil, komunitas, serta para pemangku kepentingan lainnya, untuk bersama-sama memastikan pemenuhan hak-hak perempuan di Aceh. Hal ini mencakup penguatan akses perempuan terhadap keadilan, layanan kesehatan yang responsif gender, dukungan psikososial bagi penyintas, serta memastikan perempuan memiliki ruang yang setara dalam pengambilan keputusan terkait penanganan bencana dan pembangunan perdamaian.

Melalui peringatan International Women’s Day 2026 ini, AWPF berharap semakin banyak pihak yang terlibat dalam upaya memperjuangkan kesetaraan, keadilan, dan perlindungan bagi perempuan, khususnya dalam situasi krisis dan bencana.

Selamat Hari Perempuan Internasional 2026.
Bersama, kita wujudkan dunia yang lebih adil, setara, dan inklusif bagi semua perempuan.


AWPF Audiensi dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan KB Kabupaten Bener Meriah Bahas Pemulihan Penyintas Pasca Bencana

Bener Meriah – 5 Maret 2026 Aceh Women’s Peace Foundation (AWPF) melakukan audiensi dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Kabupaten Bener Meriah dalam rangka memperkuat koordinasi pemulihan bagi para penyintas pasca bencana di Kabupaten Bener Meriah.

Pertemuan ini menjadi bagian dari upaya membangun kolaborasi antara organisasi masyarakat sipil dan pemerintah daerah dalam memastikan proses pemulihan yang lebih inklusif, khususnya bagi perempuan dan kelompok rentan yang terdampak bencana.

Direktur AWPF, Irma Sari, menyampaikan bahwa audiensi ini bertujuan untuk melakukan koordinasi awal terkait rencana kegiatan pemulihan bagi para penyintas di Kabupaten Bener Meriah yang direncanakan akan dilaksanakan pada bulan April mendatang.

“Kegiatan ini merupakan bagian dari koordinasi AWPF dengan pemerintah daerah untuk mendukung proses pemulihan bagi para penyintas di Bener Meriah. Kami berharap kolaborasi ini dapat berjalan dengan lancar dan memberikan manfaat bagi para penyintas bencana,” ujar Irma Sari.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana Kabupaten Bener Meriah, Bapak Edi Jaswin, S.Kes, M.Si, juga menyambut baik rencana kegiatan pemulihan yang akan dilaksanakan oleh AWPF. Ia menyampaikan dukungannya terhadap upaya kolaborasi antara pemerintah daerah dan organisasi masyarakat sipil dalam membantu para penyintas bencana, khususnya perempuan dan anak.

AWPF selama ini aktif melakukan pendampingan kepada perempuan dan komunitas terdampak bencana, termasuk melalui dukungan psikososial, penguatan kapasitas komunitas, serta advokasi pemenuhan hak-hak penyintas.

Melalui audiensi ini, diharapkan kerja sama antara AWPF dan Pemerintah Kabupaten Bener Meriah dapat semakin memperkuat upaya pemulihan pasca bencana yang responsif gender, inklusif, dan berkelanjutan, sehingga para penyintas dapat kembali menjalani kehidupan secara lebih aman dan bermartabat.


AWPF Salurkan Paket Kehormatan dan Bantuan Pangan bagi Penyintas Bencana di Bener Meriah dan Aceh Tengah

Bener Meriah, 9 Februari 2026 – Aceh Women’s Peace Foundation (AWPF) menyalurkan bantuan berupa paket food (pangan) dan paket kehormatan kepada perempuan penyintas bencana serta para pemangku kepentingan yang terdampak bencana di Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah. Kegiatan penyaluran bantuan ini dilaksanakan pada 9 Februari 2026 di Kabupaten Bener Meriah sebagai bagian dari komitmen AWPF dalam mendukung pemulihan masyarakat terdampak bencana, khususnya perempuan dan kelompok rentan.

Bantuan yang disalurkan meliputi paket pangan serta paket kehormatan yang berisi mukena, kain sarung, pakaian anak-anak, dan kebutuhan dasar lainnya. Bantuan ini diberikan kepada penyintas bencana dan komunitas yang selama ini menjadi bagian dari kelompok dampingan AWPF.

Direktur AWPF menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian dan solidaritas terhadap para penyintas bencana yang hingga saat ini masih menghadapi berbagai keterbatasan.

“AWPF sangat senang dapat berbagi dengan para penyintas bencana, terlebih menjelang datangnya bulan suci Ramadan yang penuh berkah. Kami berharap bantuan berupa paket food dan paket kehormatan ini dapat sedikit meringankan kebutuhan keluarga penyintas serta memberikan semangat bagi mereka untuk terus bangkit,” ujar Direktur AWPF.

Menurut AWPF, perempuan dan anak-anak seringkali menjadi kelompok yang paling rentan dalam situasi bencana. Oleh karena itu, pendekatan bantuan yang sensitif terhadap kebutuhan perempuan menjadi penting agar proses pemulihan dapat berlangsung lebih adil dan inklusif.

Selain menyalurkan bantuan, AWPF selama ini juga melakukan pendampingan kepada kelompok perempuan di komunitas, termasuk penguatan kapasitas, dukungan psikososial, serta advokasi perlindungan bagi perempuan penyintas kekerasan dan bencana.

Melalui kegiatan ini, AWPF berharap paket bantuan yang disalurkan dapat memberikan manfaat nyata bagi para penyintas serta memperkuat solidaritas kemanusiaan di tengah masyarakat yang sedang menghadapi masa pemulihan pascabencana.


AWPF Salurkan Bantuan Kemanusiaan bagi Penyintas Bencana Ekologis di Aceh Tengah

Aceh Tengah, 10 Januari 2026 —
Aceh Women’s Peace Foundation (AWPF) menyalurkan bantuan kemanusiaan bagi penyintas bencana ekologis di Kabupaten Aceh Tengah pada Sabtu, 10 Januari 2026. Distribusi bantuan dilakukan di beberapa wilayah terdampak, meliputi Kecamatan Bintang serta Kecamatan Laut Tawar, tepatnya di Dusun Rawe Toweren, Nosar, dan Jamur Konyel Bintang.

Bantuan yang disalurkan berupa bahan makanan pokok untuk mendukung kebutuhan dasar para penyintas yang hingga saat ini masih bertahan di posko-posko pengungsian. Tim AWPF menyalurkan bantuan melalui dapur umum yang dikelola di posko pengungsian, sebagai upaya memastikan bantuan dapat langsung dimanfaatkan oleh keluarga terdampak.

Direktur AWPF, Irma Sari, menyampaikan bahwa bantuan ini merupakan bentuk solidaritas dan kepedulian terhadap para penyintas bencana ekologis yang masih berada dalam situasi darurat.

“Bantuan dari AWPF kami berikan kepada para penyintas bencana ekologis yang saat ini masih tinggal di posko pengungsian dan disalurkan melalui dapur umum posko. Kami berharap bantuan ini dapat bermanfaat bagi keluarga penyintas,” ujar Irma Sari.

Ia juga menekankan pentingnya percepatan pemulihan pascabencana, khususnya penyediaan hunian sementara yang layak bagi para penyintas.

“Kami berharap para penyintas dapat segera dibuatkan hunian sementara agar mereka bisa kembali menjalani kehidupan yang lebih layak, terlebih menjelang bulan Ramadan,” tambahnya.

AWPF mendorong agar proses pemulihan pascabencana dilakukan secara adil dan inklusif, dengan memperhatikan hak-hak kelompok rentan, termasuk perempuan, anak, lansia, dan penyandang disabilitas. Pemulihan yang berperspektif keadilan dinilai penting agar tidak ada kelompok yang tertinggal dalam proses penanganan dan pemulihan bencana.

Tentang AWPF
Aceh Women’s Peace Foundation (AWPF) adalah organisasi masyarakat sipil yang berfokus pada penguatan peran perempuan dalam pembangunan perdamaian, keadilan sosial, serta perlindungan hak-hak kelompok rentan di Aceh.


AWPF Salurkan 200 Paket Bantuan Logistik bagi Penyintas Banjir di Gampong Tijeun Daboh, Pidie Jaya

Pidie Jaya28 Desember 2025. Aceh Women’s Peace Foundation (AWPF) melaksanakan kegiatan penyaluran bantuan logistik bagi penyintas banjir di Gampong Tijeun Daboh, Kecamatan Ulim, Kabupaten Pidie Jaya. Kegiatan ini dilaksanakan di Meunasah Gampong Tijeun Daboh dan diikuti oleh Keuchik (Kepala Desa) beserta aparatur gampong setempat.

Sebanyak 200 paket bantuan disalurkan kepada 200 kepala keluarga penyintas bencana banjir di Gampong Tijeun Daboh. Penyaluran bantuan ini merupakan bagian dari respons kemanusiaan AWPF terhadap bencana ekologis yang melanda wilayah Pidie Jaya.

Paket bantuan logistik yang disalurkan berisi kebutuhan pokok serta perlengkapan kesehatan dan kebersihan, meliputi sarden, sikat gigi, odol, sampo, sabun mandi, sabun cuci piring, biskuit, dan air minum. Bantuan ini diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan dasar keluarga penyintas di tengah keterbatasan pascabencana.

Dalam sambutannya, Direktur Aceh Women’s Peace Foundation menyampaikan apresiasi dan rasa syukur atas terlaksananya kegiatan tersebut.

“Kami merasa senang dapat memberikan sedikit bantuan kemanusiaan kepada para penyintas banjir di Pidie Jaya. Bantuan ini merupakan donasi dari berbagai pihak yang telah mempercayakan AWPF sebagai bagian dari tim yang melaksanakan kerja-kerja kemanusiaan di Aceh,” ujar Direktur AWPF.

Lebih lanjut disampaikan bahwa paket bantuan kemanusiaan ini diharapkan dapat memberikan kebahagiaan serta meringankan beban keluarga penyintas bencana ekologis, khususnya di Kabupaten Pidie Jaya dan Aceh pada umumnya.

Proses pembagian bantuan berlangsung secara tertib dan terkoordinasi dengan baik, sehingga seluruh penerima manfaat mendapatkan haknya secara adil dan merata.

Melalui kegiatan ini, AWPF menegaskan komitmennya untuk terus hadir mendampingi masyarakat terdampak bencana serta memperkuat solidaritas kemanusiaan di Aceh.


AWPF Selenggarakan Kegiatan Dukungan Psikososial bagi Anak-Anak Terdampak Bencana di Gampong Tijeun Daboh

Pidie Jaya, 28 Desember 2025 — Aceh Women’s Peace Foundation (AWPF) melaksanakan kegiatan dukungan psikososial bagi anak-anak di Gampong Tijeun Daboh, Kabupaten Pidie Jaya, pada Minggu, 28 Desember 2025. Kegiatan ini merupakan bagian dari kunjungan AWPF ke wilayah terdampak bencana ekologis yang terjadi di Aceh pada November 2025. Kegiatan dilaksanakan di Meunasah Gampong Tijeun Daboh.

Pelaksanaan kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesehatan mental dan kesejahteraan psikologis anak-anak yang terdampak bencana, sekaligus menciptakan ruang aman dan menyenangkan bagi mereka untuk kembali merasa nyaman, berinteraksi, dan membangun rasa percaya diri.

Seluruh rangkaian kegiatan difasilitasi langsung oleh fasilitator AWPF yang telah berpengalaman dalam pendampingan psikososial di situasi darurat dan pascabencana. Para fasilitator memastikan setiap anak dapat berpartisipasi secara aktif sesuai dengan usia dan kebutuhannya

Kegiatan dukungan psikososial ini diikuti oleh anak-anak dengan rentang usia 4 hingga 17 tahun. Berbagai aktivitas ramah anak dilaksanakan untuk membantu anak-anak mengekspresikan emosi, mengurangi kecemasan, serta memperkuat kondisi kesehatan mental mereka pascabencana.

Kegiatan tersebut secara resmi dibuka oleh perempuan kader gampong setempat sebagai bentuk keterlibatan komunitas dalam upaya pemulihan psikososial anak-anak di wilayah bencana. Seluruh rangkaian kegiatan kemudian difasilitasi oleh fasilitator AWPF yang memiliki pengalaman dalam pendampingan psikososial di situasi darurat dan pascabencana.

Direktur Aceh Women’s Peace Foundation, Ibu Irma Sari, menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi momen penting bagi AWPF untuk bersilaturahmi langsung dengan anak-anak terdampak bencana.

“Kami senang bisa bersilaturahmi dan berjumpa dengan anak-anak di Gampong Tijeun Daboh. Melihat mereka tertawa dan bergembira bersama setelah kecemasan melanda mereka akibat bencana ekologis di Aceh pada bulan November lalu menjadi penguatan bagi kami bahwa dukungan psikososial sangat dibutuhkan dalam proses pemulihan,” ujar Irma Sari.

Melalui kegiatan ini, AWPF berharap dapat berkontribusi dalam mendukung pemulihan kesehatan mental anak-anak di wilayah terdampak bencana serta mendorong perhatian berbagai pihak terhadap pentingnya layanan psikososial yang berkelanjutan bagi anak-anak dan komunitas pascabencana.


AWPF Lakukan assessment Penerima Manfaat Penyintas Bencana Ekologis di Pidie Jaya, Aceh

Pidie Jaya, 10 Desember 2025 — Aceh Women’s Peace Foundation (AWPF) melaksanakan kegiatan asesmen penerima manfaat bagi penyintas bencana ekologis di sejumlah desa di Kabupaten Pidie Jaya pada 10 Desember 2025. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya respons kemanusiaan AWPF untuk memastikan bantuan dan program pemulihan tepat sasaran dan berperspektif gender.

Asesmen dilakukan di desa-desa terdampak bencana dengan fokus pada penyintas yang terdampak langsung, khususnya perempuan, anak-anak, serta kelompok rentan lainnya. Kegiatan ini bertujuan untuk mengidentifikasi kondisi, kebutuhan, dan kerentanan penyintas secara lebih komprehensif sebagai dasar perencanaan intervensi kemanusiaan dan pemulihan pascabencana.

Direktur Aceh Women’s Peace Foundation, Irma Sari, menegaskan pentingnya kegiatan asesmen yang berfokus pada kelompok rentan.

“Penting bagi kami untuk melihat secara langsung kebutuhan kelompok rentan agar dapat diketahui bentuk penanganan atau treatment yang tepat bagi penyintas perempuan dan anak. Asesmen ini juga dilakukan untuk memperoleh data terpilah gender sehingga manfaat program dapat dirasakan secara adil oleh masyarakat di sekitar wilayah bencana,” ujar Irma Sari.

Hasil asesmen ini akan menjadi rujukan bagi AWPF dalam menyusun program dukungan kemanusiaan, termasuk bantuan logistik, dukungan psikososial, serta upaya perlindungan bagi perempuan dan anak di wilayah terdampak bencana ekologis.

Melalui kegiatan ini, AWPF menegaskan komitmennya untuk mengedepankan pendekatan berbasis kebutuhan dan keadilan gender dalam setiap respons kemanusiaan, guna memastikan bahwa kelompok paling rentan tidak terpinggirkan dalam proses pemulihan pascabencana.


AWPF dan Gerakan Perempuan Aceh Gelar Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan di Wilayah Bencana Pidie Jaya

Pidie Jaya, 10 Desember 2025 — Aceh Women’s Peace Foundation (AWPF) bersama Gerakan Perempuan Aceh melaksanakan kegiatan kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (16 HAKTP) bersama pengungsi terdampak bencana banjir dan longsor di Kabupaten Pidie Jaya. Kegiatan ini dilaksanakan pada 10 Desember 2025 di Meunasah Gampong Babah Krueng, Kecamatan Bandar Dua, Kabupaten Pidie Jaya.

Kegiatan kampanye ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan 16 HAKTP yang dilaksanakan di wilayah terdampak bencana sebagai upaya memastikan isu perlindungan perempuan tetap menjadi perhatian di tengah situasi darurat. Bencana banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah Aceh pada akhir November 2025 telah meningkatkan kerentanan perempuan, anak-anak, dan kelompok lanjut usia terhadap berbagai bentuk kekerasan dan tekanan psikososial.

Kegiatan diikuti oleh pengungsi, khususnya anak-anak serta ibu-ibu dan perempuan lanjut usia yang saat ini tinggal di lokasi pengungsian Gampong Babah Krueng. Berbagai aktivitas dilakukan dalam suasana ramah dan inklusif, dengan tujuan memberikan hiburan, memperkuat dukungan psikososial, serta menyampaikan pesan-pesan pencegahan kekerasan terhadap perempuan dalam konteks bencana.

Pelaksanaan kegiatan bertempat di Meunasah Gampong Babah Krueng yang difungsikan sebagai ruang berkumpul pengungsi dan pusat kegiatan komunitas. Melalui pendekatan yang partisipatif dan berbasis komunitas, AWPF dan Gerakan Perempuan Aceh berupaya menciptakan ruang aman bagi pengungsi perempuan dan anak untuk berinteraksi, berbagi pengalaman, serta memperoleh dukungan moral di tengah kondisi darurat.

AWPF menegaskan bahwa kampanye 16 HAKTP di wilayah bencana menjadi pengingat penting bahwa upaya pencegahan kekerasan terhadap perempuan tidak boleh terhenti meskipun dalam situasi krisis. Perlindungan perempuan dan kelompok rentan harus menjadi bagian integral dari respons kemanusiaan dan pemulihan pascabencana.


AWPF Salurkan Bantuan Logistik bagi Perempuan Penyintas Bencana dan Mahasiswa Terdampak Bencana Ekologis di Aceh

Banda Aceh, 3 Desember 2025 — Aceh Women’s Peace Foundation (AWPF) melaksanakan kegiatan penyaluran bantuan logistik kepada perempuan penyintas bencana alam yang berada di Anjungan Bener Meriah pada Selasa, 3 Desember 2025. Kegiatan ini merupakan bagian dari respons kemanusiaan AWPF terhadap bencana banjir yang melanda sejumlah wilayah Aceh pada akhir November 2025.

Penyaluran bantuan ini ditujukan kepada keluarga penyintas banjir yang mengalami kehilangan sanak saudara serta rumah tempat tinggal akibat bencana. Dalam situasi darurat tersebut, para penyintas menghadapi keterbatasan akses komunikasi karena terputusnya jaringan internet dan padamnya listrik, sehingga tidak dapat menginformasikan keberadaan dan kondisi mereka kepada keluarga maupun pihak terkait.

AWPF menyalurkan bantuan berupa kebutuhan pokok serta perlengkapan kesehatan dan kebersihan bagi perempuan dan keluarga penyintas bencana di lokasi pengungsian. Bantuan ini diharapkan dapat meringankan beban penyintas dalam memenuhi kebutuhan dasar, kesehatan, dan kebersihan di tengah kondisi krisis.

Selain penyaluran bantuan di Anjungan Bener Meriah, AWPF juga menyalurkan bantuan logistik berupa makanan ringan kepada mahasiswa asal Aceh Tengah dan Bener Meriah yang berada di Banda Aceh. Pada saat kejadian bencana, para mahasiswa tersebut mengalami kesulitan mengakses dana untuk membeli kebutuhan logistik sehari-hari di Banda Aceh akibat terganggunya kondisi keluarga dan jaringan komunikasi di daerah asal.

Penyaluran bantuan kepada mahasiswa ini merupakan bentuk solidaritas AWPF kepada penyintas bencana ekologis di Aceh, sekaligus upaya memastikan kelompok terdampak bencana, termasuk mahasiswa perantau, tetap mendapatkan dukungan kemanusiaan.

Melalui kegiatan ini, AWPF menegaskan komitmennya untuk terus hadir memberikan dukungan kepada perempuan dan kelompok rentan serta komunitas terdampak bencana ekologis di Aceh, baik di wilayah terdampak langsung maupun di luar daerah bencana.